Hari ke-9

Hari ini hampir menjadi hari yang paling tidak penting dalam hidupku. Seharian aku tertidur menatap langit-langit kamar sambil sesekali mengecek handphoneku. Hampir.

Aku terbangun di siang hari seperti biasa. Aku melewati shalat subuh dan dzuhur. Malas. Aku merasa lelah sekali. Aku manja dan lemah. Memang terkadang hidup membuat kita jatuh berkali-kali.

Sampai sore aku tetap tertidur sampai waktu shalat azhar tiba dan aku menunaikan ibadah itu. Kemudian tidak lama ibuku menelpon. Penyelamat dari sepinya hari ini. BIsa kau tebak kawan isi omongan ibuku. Ibuku menasehatiku tentang hal asmara dan perkuliahanku. Aku diam dan menurutinya, aku bercerita tentang semua yang terjadi belakangan. Ibuku tidak lelah mendengar ceritaku yang sebenarnya itu itu saja. Setelah cukup lama mengobrol, dia lalu memberikan pesan penutup. “Kita harus sayang dek sama diri sendiri. Dia bisa ketawa, dia mungkin sudah lupa sama kita, dia bisa cari orang baru dengan gampang. Kenapa kita terus menyiksa diri dengan tetap seperti ini? Semangat dek. Sana main.”

Aku sadar dan tak terasa sore sudah tiba. Tiba saatnya aku berbuka puasa dan melakukan rutinitas harianku. Membeli gorengan dan berinteraksi dengan lingkungan. Matahari sore ini sungguh indah dan menyilaukan. Bekas air mata yang menetes ketika aku menelpon ibuku membuat mataku semakin bengkak. Tapi cahaya matahari mampu membuka mataku. Ah silau..

Setelah mendapatkan makanan aku kembali ke kamar dan sambil menunggu berbuka aku mempelajari cara menggunakan photoshop dan corel. Aku juga sambil mengulik akun hipwee yang baru kubuat. Menulis dan belajar mampu setidaknya mengalihkan perhatianku.

Malam tiba, setelah aku berbuka aku menelpon teman wanitaku. Aku sungguh senang karena masih ada yang peduli denganku meski obrolan yang terjadi adalah obrolan tolol yang isinya adalah saling menghina. Tapi aku bahagia. Tak terasa sekitar sejam kita mengobrol dan temanku di seberang izin untuk mandi. Telepon berakhir dan aku tidak sengaja tertidur.

Dalam tidurku aku bermimpi bertemu teman-teman lamaku. Teman yang sangat lama berkumpul di kampusku. Dalam mimpiku ada bazaar besar yang membuat mereka berkumpul disana. Ketika itu aku terbangun dan terkejut. Mungkin aku merindukan mereka.

Sekitar jam 10.00 malam aku melakukan interview dengan temanku demi kepentingan skripsiku. Setelah interview singkat, aku kembali melakukan aktifitas rutinku. Menonton pertandingan catur antar pedagang yang tentu saja mampu membuatku tertawa atau setidaknya tersenyum.

Aku berada disana sampai jam 02.00 pagi tadi. Selain bertanding catur, aku juga mendapatakan makanan gratis yang tentu saja sangat aku suka. Mi yamin yang enak sekali. Kemudian es kelapa juga disuguhi oleh tukang cukur. Ini menarik karena tukang cukur kepala merangkap menjadi tukang jual es kelapa. Kepala dan kelapa. Kadang aku terkekeh sendirian memikirkan apabila si tukang lupa, jadi membelah kelapa dengan gunting dan memotong rambut dengan golok.

Percakapan yang terjadi diantara para pedagang lokal dan semua orang dilingkungan sangat menarik. Mulai dari mengeluh soal pemerintah, soal agama, soal ibu warung seksi, soal bisnis, soal rokok, soal catur, soal berantem, semuanya. Kau tentu tidak merasakannya. Mungkin nanti akan kuceritakan lebih detail tentang mereka dan apa yang aku pernah bicarakan.

Tuhan terima kasih atas hari ini. Aku bersyukur aku masih hidup dan mampu melewati hari ini meski aku sendirian. Tanpa siapapun di sampingku. Bahkan tanpa teman-temanku.

Semoga senyumku semakin lebar dan aku bisa merasakan apa yang mantan pacarku rasakan. Bahagia.

Iklan

Hujan, Air Mata, dan Matahari

Langit sungguh indah sore ini. Sehabis hujan bukan mendung yang tersisa, tapi pelangi dan cahaya keemasan. Semua seolah menghibur dan memberikan aku petunjuk bahwa akan selalu ada cahaya setelah hujan terus menerus.

Jujur saja, sudah lama aku tidak melihat matahari. Namun, aku melihatnya saat ini. Matahari indah sekali menerpa wajahku. Seperti Tuhan yang mengusapku dengan hangatnya yang sudah lama tidak pernah aku rasakan.

Hal ini tentu saja membuatku terharu, tenang dan sangat bahagia. Betul kawan! Setelah aku dibabat habis oleh rasa bersalah, penyesalan, dan cinta yang tak berbalas, melihat matahari saja sudah cukup bagiku untuk menyadari bahwa besarnya kuasa Illahi.

Kesedihan ini membuatku sungguh lelah. Masa-masa lirih perlahan dengan sangat pelan mulai berangsur mereda. Ibu dan teman-temanku berperan penting dalam proses ini. Disamping itu tahukah kalian kalau aku mendengarkan ceramah setiap hari. Mungkin cara ini cukup efektif untuk menjadikan aku pribadi yang lebih baik.

Dilihat ke belakang banyak sekali yang sudah aku lalui. Ada yang aku kecewakan, ada juga yang aku bahagiakan. Ada yang aku banggakan, ada juga yang aku sesalkan. Semua ini seolah berhasil membuatku merasakan menggunakan hati dan pikiran. Bayangan teman-teman dan mantan pacarku yang selalu ada menghantui perlahan pudar. Bukannya melupakan, tapi akhirnya aku mampu menerima dan berusaha membuat semua lebih baik lagi ke depannya.

Seperti matahari. Matahari tidak selamanya ada menyinari kita. Terkadang dalam beberapa hari bahkan bulan, sinar matahari tidak mampu menembus awan gelap yang bergulung gemuruh itu. Namun bukan berarti matahari tidak memiliki sinarnya, semua cuma terhalang. Hal ini berlaku bagi kita. Setelah disiksa rasa bersalah dan kecewa dengan diri sendiri, cahaya dalam diriku bukan berarti pudar. Mungkin hanya terhalang oleh awan gelap yang datang untuk mengingatkanku.

Pada akhirnya seorang sahabat berkata, “Orang yang benar bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Tapi orang yang benar adalah orang yang mengetahui kesalahannya, mengakui itu, dan mau berubah demi itu. Tidak peduli betapa sulitnya, karena ia percaya bahwa tidak ada hal yang sia-sia selama itu membuat diri kita semakin baik.

 

Hari ke-2,3,4,5,6,7,8

Wah aku lupa dengan janjiku. Maaf ya! Aku melewatkan beberapa hari tanpa menulis karena hariku yang cukup sibuk. Sibuk sekarat, sibuk galau, sibuk miskin, sibuk cari kerja, sibuk skripsi, sibuk ibadah, sibuk mikir, dan sibuk santai.

Pada hari ke-2 dan 3 diisi dengan keadaan aku yang sakit parah. Aku terbaring lemah karena masuk angin dan telat makan.Selain itu mungkin hal ini karena kepalaku dipenuhi oleh berbagai macam hal-hal negatif.

Pada hari ke-3 malam, aku telah pindah tempat tinggal. Seru sih. Cuma ya gitu. Rumah lama masih terasa jauh lebih menyenangkan.Disini sepi. Aku dihinggapi kesepian yang teramat sangat sampai aku bertemu Daus dan teman-teman lamaku. Sungguh menyenangkan. Aku bisa menjadi diriku seperti dulu. Tertawa bersama adalah harta yang paling aku suka. Aku dan Daus merokok ganja sebelum pergi ke rumah makan tempat kita janjian sama Dhani. Wah.. Seru! Old time’s best. Sepanjang jalan kita tidak berhenti ngobrol sekaligus bengong. Hahaha. Sampai di tempat janjian aku langsung memesan makan bersama Daus. Munchies. Makanannya lama banget datengnya. Tapi begitu datang, kau tau boi? Tak masalah kau menunggu selama itu asal kau mendapatkan makanan itu. Ikan bakarnya enak sekali. Pedas boi! Jadi berbeda dengan ikan bakar yang biasa dengan bumbu kecap. Ini super enak! Setelah makan kita langsung pulang dan tidur.

Hari ke-4, Di tempat baru, aku menghabiskan banyak waktu untuk berinteraksi dengan sekitar. Penjaga toko kelontong lokal, mang bakso, mas nasgor, tukang pijet, abang gorengan, ibu cireng, satpam, penjaga warteg dan sumarloki. Hidupku sangat teratur kali ini dan semua warga lokal tersebut adalah orang yang aku temui dan kuajak ngobrol setiap hari. Sungguh menyenangkan. Obrolan hal-hal sederhana. Mereka saling peduli satu sama lain membuatku merasa sangat tenang. Setelah beberapa hal yang merusak diriku.

Hari ke-5, Aku pergi ke jakarta pada malam hari ini. Setelah berkutat seharian di perpustakaan dengan suntuk aku pulang ke Kamar. Sewaktu di perpustakaan aku ditelpon olehnya. Aku mengobrol dengannya sekitar sejam lebih. Melalu telepon dan aku bahagia, aku tidak tahu apa dia merasakan hal yang sama atau hanya keegoisan aku lagi. Aku pamit dengannya. Dia berkata “hati-hati.”. Hal kecil itu membuatku bahagia. Sepanjang perjalanan aku tertidur, jalanan macet sekali malam itu. Aku berangkat bertiga dengan temanku, Rian dan Sidik. Destinasi pertama kami adalah bintaro. Kemudian ke depok. Hari yang melelahkan tapi tentu saja. Seru! Aku bertemu tanteku. Ah! lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Mengobrol tentang semua hal. Aku sangat senang. Ah.. Lagu perfect-ed sheeran membuatku selalu memikirkannya. Rindu.

Hari ke-6, Aku pulang dan tertidur sangat pulas. Lama sekali. Aku terbangun setelah kupikir semua berjalan baik tapi ternyata tidak. Dia kembali menjadi orang yang sedang berusaha membangun bentengnya. Tapi tidak mengapa. Aku rasa aku ikhlas melakukan semua ini. Aku merasa begitu berdosa sampai detik ini. Aku cukup galau dan sedih, kembali sedih. Tapi aku mampu mengalihkannya. Kok bisa? Menonton catur Tukang Pijit vs Tukang Bakso. Seru. Lucu. Aku menemukan hal sederhana yang membahagiakan. Alhamdulillah. Aku masih hidup sampai hari ini.

Hari ke-7, Pagi begitu melelahkan. Puasaku bolong 2. Solatku bolong 10. Ah, sia sia. Aku lelah pagi ini karena begitu banyak pikiran menguasaiku. Aku berangkat gontai ke kampus karena aku harus. Aku bertemu dengan teman-teman seangkatanku. Sudah lulus semua. Bisa kau bayangkan? Setelah beramah tamah, aku menuju perpustakaan. Membaca buku, bengong, solat, membaca jurnal, menanti hujan, dan apapun itu. Paling tidak aku tidak merasa sendiri. Kenapa aku tidak main saja dengan teman-temanku? Bukannya aku tidak ingin, bukannya aku tidak memiliki teman, bukannya aku tidak mampu. Aku hanya ingin menghukum diriku dengan menyendiri dan terus berpikir. Paling tidak ini menuntuku ke dalam pembentukan diri yang lebih baik dan lingkungan baru yang sederhana tadi. Malam hari sangat dingin karena hujan terus menerus turun. Semua tampak begitu sendu. Lagi-lagi serangan itu datang. Rindu.

Hari ke-8, Seperti biasa setelah dia keluar, dia selalu mengubah sikapnya. Ketika dia mulai hangat, dia berubah lagi jadi dingin. Mungkin dia berpikir dia bisa bahagia meski tanpa aku. Dia bisa lakukan semua hal meski tanpa aku. Dan semuanya yang menurut dia itu benar. Aku tidak membantahnya. Ya dia bisa dan dia tampak lebih bahagia. Sehabis sahur aku mencoba menelpon dan ingin ngobrol atau cerita hal-hal yang menarik karena malam sebelumnya kita mulai membicarakan bisnis dan hal lain yang menurutku ini perkembangan yang cukup berarti. Telpon diangkat dan kita mulai berbicara beberapa hal yang menarik menurutku, tapi mungkin lagi-lagi ini hal yang merupakan keegoisanku. Mungkin dia pikir tidak menarik berbicara denganku. Karena pulsaku sedikit jadi baru bicara sebentar sudah diputus. Telkomsel brengsek. Hari ini aku terbangun sangat sore. Jam 02.30, Segera aku solat dzuhur karena takut dimarah Allah. Aku bersiap untuk ke tempat objek penelitan untuk tugas akhirku sebagai mahasiswa. Aku berbuka puasa dengan temanku, Rian. Kita berbuka di cibiuk. Gratis! Ini buka puasa kantornya Rian. Hahaha, terima kasih Rian. Di sela-sela waktu itu aku mencoba mencoba mengontaknya dari siang namun tidak ada jawaban sampai malam. Aku tau akhirnya ternyata dia pergi keluar. Main. Aku ingin mengingatkan untuk membeli bingkai buat lukisan yang pernah aku buat. Tapi mungkin hal itu bukan menjadi prioritas untuknya. Dia kembali dingin, aku tidak sengaja melihatnya tertawa di instagram. Bahagia. Aku sakit, tapi melihat dia tertawa. Aku coba untuk tersenyum. Mungkin inilah saat paling tepat untuk terakhir kali menghubunginya. Dia benar-benar bahagia dan mungkin lebih bahagia daripada bersamaku. Disamping karena aku bisa melihat bahagianya dia, aku juga melihat hal lain yang terjadi. Tidak apa. Kata sahabatku, suatu saat aku juga akan merasakan hal yang sama. Bahagia. Ketika aku menulis ini, Hujan turun pelan-pelan dari langit. Aku yakin nanti akan bertambah deras. Dingin. Lagu Ed sheeran-Happier menjadi teman malam ini. Sabarlah.. Semua ini akan berakhir indah. Semoga..

 

I drown it with a drink and out of date prescription pills

And all the ones that love me, they just left me on the shelf, no farewell.

So before I save someone else, I’ve got to save myself

And before I blame someone else, I’ve got to save myself

And before I love someone else, I’ve got to love myself..

 

 

Hari ke-1

Aku ingin menulis setiap harinya untuk sekedar bercerita apa yang terjadi di hari ini dan apa yg aku pikirkan. Tulisan ini pasca kandasnya hubungan yang selama ini aku coba untuk terus ada.

Pagi tadi aku bangun setelah kesulitan tidur. Sangat sulit aku tidur. Entah karena tidak mengantuk atau banyak pikiran. Aku tertidur jam 7 pagi dan harus bangun sekitar jam 10 pagi untuk ke kampus.

Aku dijemput oleh temanku, Karina. Dia menemaniku untuk ada di perpus. Tadi pagi sampai jam 2 siang aku merasakan lemas dan mual. Aku akan sakit pikirku. Tapi untungnya setelah itu aku kembali bisa mengatasi rasa sakitnya.

Banyak sekali jurnal yang aku print hari tadi, ketika aku sedang nge-print, aku melihat seorang wanita berkerudung cantik di tempat photo copy yang sedang berbicarang dengan seseorang melalui telepon. Dia berceloteh tentang Pak Osa, dosen pembimbingku, aku kira dia mau bimbingan juga, ternyata dia hanya magang. Tapi aku tadi cukup bertukar omongan dengannya karena itu. Aku melihat wajahnya, dan aku merasa sepertinya dia tertarik kepadaku. Dia selalu mengumbar senyum kepadaku yang bahkan aku tidak menyunggingkan senyum sedikitpun ketika berbicara dengannya. Dia cantik, tapi aku tidak mencintainya.

Dan akhirnya aku bertemu dosen pembimbingku, syukurlah aku dapat pencerahan atas penelitianku. Kemudian aku shalat di perpustakaan. Dan melakukan banyak sekali pembahasan tentang skripsi, masa depan, masa lalu, dan mantanku dengan Karina.

Setelah itu aku pulang membeli kardus dan berkeliling mencari kosan baru untuk tempat aku tinggal. Karena kosan yang ada saat ini akan segera habis.

Setelah itu, Karina mengantarku pulang ke rumah dan aku segera memasukkan barang barangku ke dalam kardus setelah menghangatkan masakan kiriman mamak. Aku mengirimkannya ke mantan pacarku karena aku pikir dia akan menyukainya.

Seperti biasa, aku mencari makanan untuk berbuka, berbuka, lalu shalat dan ketiduran. Oya aku lupa, aku berbuka dengan mie ayam. Fatal.

Ketika aku terbangun aku merasakan perasaan yang sangat tidak enak. Aku kembali galau. Dan aku mual dan tiba tiba sakit kembali. Aku muntah lemas. Aku masih menyempatkan untuk menulis pesan panjang untuk mantanku, kalau-kalau dia tersentuh, tapi ternyata tidak.

Sadar sakitku bertambah parah. Segera aku panggil Pak Agus yang biasa memijat aku. Syukurlah dia datang dan aku banyak bertukar cerita terutama tentang wanita. Pak Agus menasehatiku untuk tidak menyerah mengejar cintaku dan aku pun mengangguk takzim.

Setelah dipijat aku dicekoki tolak angin dan bawang putih. Saat menulis ini aku sedang tiduran di kasur dengan kamar yang kosong melompong. Hanya kasur saja.

Hari yang panjang dan berat.

Tapi aku masih hidup, kawan.

Mamak..

688

Bismillahirahmanirahiim..

Tulisan ini kubuat untuk manusia paling berharga dalam hidupku.

Sudah terlalu lama rasanya aku tidak melihat wajah Ibuku. Ya, ibu kandungku sendiri. Ibuku orang yang sangat gaptek. Hal ini membikin Ia sulit menggunakan handphone keluaran terbaru yang memungkinkan kita untuk bertatap muka ketika melakukan panggilan melalui handphone.

Beliau adalah orang yang paling baik dan sabar yang pernah ada dalam hidupku. Tentu karena dia adalah ibuku. Tapi, tahukah kalian bahwa dalam hidupku, selama 23 tahun ini, aku hanya memiliki ibuku.

Siang lalu, aku remuk. Setelah seharian dipusingkan oleh urusan skripsi yang menelanku bulat-bulat, aku juga baru saja menerima kenyataan bahwa hubunganku dengan mantan pacarku tidak bisa diperbaiki lagi. Aku berjalan gontai menuju parkiran kampusku. Dering telepon yang masuk memaksaku melihat siapa yang menelponku. “Mamak” nama yang ditampilkan layar handphoneku. Aku sungguh tidak kuasa menahan telepon dari Ibuku. Segera kuangkat.

“Ya mak?”

“Gimana nak?”

“Sudah ngga apa-apa, lancar kok.”

Aku berbohong.

“Syukurlah, puasa ngga? Shalat jangan lupa ya, dek. Karena cuma Allah yang bisa bantu kita”

“Iya mak, ini puasa. Nanti sampe rumah aku shalat ya..”

“Emang adek dimana ini?”

“Di kampus mak, mau pulang.”

“Ya udah, pulanglah nak. Hati-hati ya.”

“Iya mak, assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Entah kenapa setiap aku ada musibah, halangan, masalah, sedih dan segala bentuk kondisi yang tidak menyenangkan, selalu ada telepon darinya yang memaksaku untuk berkata semua baik-baik saja.

Ibuku adalah orang yang bersahaja, dermawan, baik hati, perhatian, dan perasa. Sebelumnya Ibuku adalah wanita yang riang, cekatan, gembira dan pencinta arisan. Ibuku tentu orang yang kuat karena selama ini, semenjak Bapakku pergi meninggalkan Ibuku, Dia menjadi tulang punggung keluarga serta kepala keluarga. Sebelum ada suatu kejadian besar yang belum ingin aku ceritakan disini. Keluargaku adalah keluarga yang sangat berada. Segala macam keinginanku selalu terpenuhi. Sampai tiba kejadian itu dan membuat keluargaku benar-benar terpuruk. Hal ini merubah perangai Ibuku. Ibuku menjadi tertutup, tidak lagi riang, mimik mukanya semakin lelah seolah cahaya telah hilang dari sebagian hidupnya.

Aku sungguh sedih melihat Ibuku. Ibuku sayang, Ibuku malang..

Semua pikiran itu terus berkecamuk dalam diriku disepanjang jalan pulang dan bertahan hingga berhari-hari sampai hari ini. Aku tak kuasa setiap hari memikirkan aku harus membawa kebahagiaan ketika aku pulang nanti.

Setibanya aku di rumah, aku benamkan diriku di kasur.

Lelah..

Aku buka kembali sms dari Ibuku. Aku baca semuanya. Isinya adalah keluhanku. Hampir semuanya! Aku terus mengeluh. Tidak terasa aku menitikkan air mata. Keluhanku soal mantan pacarku, kondisi keluarga, keuangan, dan semua hal. Padahal ketika aku sedang bahagia aku terkadang lupa dengan Ibuku.

Handphoneku kembali berbunyi lalu kau bisa tebak siapa yang menelponku lagi.

“Assalamualaikum dek. Udah di rumah?”

“Udah mak, kenapa?”

“Engga dek, cuma pengen ngobrol.”

Aku terdiam dan tak terasa aku menangis, tanpa ibuku tahu.

“Oh iya mak, mamak kangen ya? Ga ada kerjaan emang?”

“Iyalah dek, sepi disini. Klinik libur. Mamak buka puasa sendiri pake goreng tempe aja ini. Tadi mamak abis masak.”

“Wah enak dong, aku juga mau makan masakan mamak. Udah lama. Aku sih buka di warteg paling mak.”

Suaraku bergetar.

“Iya dek, hemat hemat ya. Adek masih ada uang engga?”

“Ada mak, tenang.”

Aku kembali berbohong dan teringat saldo di ATMku hanya tersisa 70.000.

“Oh syukurlah, ini dagang sepi. Kasian. Untung mamak masih ada kerja di klinik dan di puskes jadi bisa lah ngumpulin buat kirim adek.”

“Udah mamak tenang aja nanti aku nyari kerjaan disini.”

“Ya dek jangan tinggal shalatnya. Gimana sama Elok?”

“Iya mak. Udah ngga apa-apa mak. Jadi temen.”

“Kalau bisnis gimana dek jadinya?”

“Tetep mak, sama Elok.”

“Oh, syukurlah mamak jadi seneng.”

“Mak, kirim makan dong, kangen masakan mamak.”

“Iya nak, besok mamak kirim paru ya. Sekalian untuk Elok.”

“Iya mak, aku shalat azhar dulu ya mak”

“Lho, kok belum shalat.. ini udah mau maghrib. Ya udah, shalat sana.”

“Ya mak, assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam”

Seketika aku ambil air wudhu dan aku shalat. Setelah shalat aku tiduran sambil menatap langit-langit kamar.

Aku berbohong lagi.

Aku berbohong karena sebenarnya uangku habis dan memaksaku untuk meminta dikirim makan.

Aku berbohong karena sebenarnya aku dan mantanku bahkan tidak lagi berhubungan semenjak mantanku tetap tidak ingin memperbaiki dan percaya dengan hubungan ini lagi.

Aku berbohong karena sebenarnya urusan kuliahku sangat memusingkanku dan aku terancam menambah semester lagi. Itu berarti aku harus membayar uang kuliah lagi.

Aku berbohong karena sebenarnya begitu sulit mencari pekerjaan saat ini. Terlebih untukku yang masih belum lulus kuliah.

Aku melakukannya bukan hanya karena aku seorang pria, tapi karena aku merasa sudah terlalu banyak aku merepotkannya. Tidak ingin menambah beban hidupnya yang sudah begitu banyak.

Ibuku sebenarnya orang yang sangat lucu. Sungguh, Ibuku sangat lucu dan polos. Sayangnya, Ibuku seperti kehilangan sosok anak perempuannya yang entah kenapa menjadi begitu cuek dengannya. Maka dari itu seringkali Ibuku mengakrabkan diri ke pacarku.

Aku kembali terdiam. Cukup lama aku melamun. Aku ingat kalau sejak dulu aku selalu merengek, merajuk, mengancam untuk memaksakan kehendakku. Aku seringkali tidak mengerti kondisi. Untuk urusan asmara, aku sadari bahwa sejak dulu aku selalu cerita semua dengannya. Sakit hati, gundah, galau, suka cita, bahagia, dan kasmaran kemudian sakit hati lagi. Semuanya tahu!

Aku juga tertegun ketika aku sadari beberapa waktu belakangan ini aku semakin mengecewakannya karena urusan kampusku yang tidak kunjung usai dan urusan asmara yang sempat membuatku berpikir bodoh.

Aku terlalu sering merampas kebahagiaannya, salah satunya adalah ketika hubunganku berakhir belakangan ini. Aku tahu, dia pasti sedih karena dia kehilangan sosok perempuan yang biasanya selalu diteleponnya kapan saja. Sekedar bercerita atau menceritakan aku. Tapi lagi, aku tetap saja merampas itu. Kau tahu, pada saat itu, dia menghiburku, menasehatiku, mengerti keadaanku, dan meminta maaf. Iya, dia yang meminta maaf!

Aku malu..

Dia yang mengerti bahwa aku kesepian jadi dia selalu meneleponku setiap 2 jam, bahkan tengah malam. Sekedar ngobrol dan bertanya bagaimana keadaanku.

Dia menghiburku dengan berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Dia bilang tenang saja karena aku tampan, banyak wanita yang akan mengantri ketika aku sudah lulus dan berhasil.

Dia menasehatiku untuk menjadi lebih baik lagi. Jauh lebih baik lagi. Juga tidak lupa dia membuatku tenang dengan berkata, soal uang bisa kita cari, tenang mamak ada ide. Aku berpikir, mungkin karena itulah aku sering mendapati Ibuku bergumam akan sesuatu.

Dan terakhir dia meminta maaf karena tidak bisa ada disampingku ketika aku membutuhkan teman. Ketika aku membutuhkan sahabat. Ketika aku sedang sakit. Dan ketika aku direndahkan. Aku ingat kata-katanya.

“Maaf dek, karena mamak sekarang ga punya apa- apa, adek jadi susah..”

Oh, Tuhan..

Tidak, jangan. Jangan meminta maaf. Jangan pernah. Karena ini semua salahku. Bukan salah mamak. Jangan sekalipun mamak menangis juga karena aku. Jangan. Aku sejak dulu selalu egois dengan melakukan dan menginginkan banyak hal.

Aku yang harusnya meminta maaf dan mencuci kakimu.

Aku yang harusnya meminta maaf karena terlalu sering merepotkanmu bahkan untuk hal-hal sepele.

Aku yang seharusnya meminta maaf karena telah merampas semua kebahagiaanmu semena-mena. Menghabiskan uangmu.

Aku yang seharusnya..

Terkadang semua ini membuatku begitu merasa bersalah dan menjadi penyendiri. Kalau ada yang harus benar-benar aku syukuri dalam hidup ini, hal itu adalah Ibuku. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Dia yang mudah panik, yang selalu lucu dan polos, yang selalu menghiburku, yang selalu menasehatiku, yang selalu bisa akrab dengan pacarku, yang selalu sabar, yang selalu tidak pernah marah, yang selalu berkata “Mamak hidup cuma untuk Agung”, yang selalu menenangkanku, yang selalu cerdas, yang selalu kuat, yang selalu bisa menangis bersama, dan selalu bisa membuatku menyesali setiap dosa yang pernah aku buat sehingga aku bisa terpekur dan tersimpuh sujud di atas sejadah untuk berdoa agar berumur panjang dan Tuhan selalu mengampuni segala dosanya.

Jika nanti, aku terlahir lagi di dunia ini, hanya satu yang tidak ingin aku ubah. Aku tidak ingin Ibuku berganti. Aku tidak bisa membayangkan andai mamak adalah orang lain. Aku rela menukar semua harta benda dan segala isi bumi ini untuk Ibuku, Mamak.

Bersyukurlah kalian jika kalian masih bisa melihat Ibu kalian setiap harinya. Bisa mendengar seluruh omelannya, karena terkadang ketika aku bertemu dengan Ibuku, aku dengan sengaja memancing kekesalannya untuk sekedar mendengarkan semua ocehannya.

Dengan segala kerendahan hati aku menuliskan semua ini tulus untuk Ibuku.

Mamak.

Semoga kelak kita bisa terus tertawa bahagia dan aku bisa menemanimu sampai akhir umur.

Agung sayang mamak..

Tulisan Di Tepi Jalan

Sejak awal, suatu kejadian seperti sekitar 110 miliar manusia telah dilahirkan ke bumi ini. Tak satupun dari mereka berhasil.

Saat ini ada sekitar 6,8 miliar manusia di planet ini. Sekitar 60 juta orang meninggal setiap harinya. 60 JUTA. Sedangkan yang dilahirkan sekitar 116.000 manusia setiap harinya.

Aku pernah membaca sebuah kutipan sekitar 5 tahun lalu. Ketika aku berumur 18 tahun.

“Kita hidup sendiri, Kita mati sendiri, Yang lain hanyalah ilusi.”

Kutipan itu membuatku terjaga hampir di tiap malam sampai saat ini. Membuatku menjadi individual yang berusaha berdiri sendiri dan bebas.

“Kita semua mati sendiri”.

Jadi mengapa aku harus menghabiskan hidupku untuk bekerja, berkeringat, dan berjuang? Untuk sebuah ilusi yang tak satu setanpun tahu kemana semua ini akan membawaku.

Termasuk didalamnya adalah keluarga, teman, dan dirimu. Ilusi yang indah. Semua ini bersifat sementara saja.

Namun tetap saja perpisahan ini meninggalkan luka. Belum pernah aku mencintai seseorang sekeras ini, sekuat ini, seperti padamu. Aku ingin menjerit dan kau tahu gema jeritanku untuk seseorang. Seseorang yang aku dulu ketahui. Dan kita menjadi siluet ketika kita sama-sama pergi.

Menulis merupakan obat yang manjur dibandingkan menceburkan diri kedalam romansa baru yang aku sadar bahwa aku belum siap untuk memulainya.

Leonard Cohen membantu aku untuk menenangkan diri dan duduk di pinggir jalan seperti ini merupakan hiburan murah yang tidak murahan jika kau mengerti esensi dari melihat lalu memahami.

Tak henti aku bersyukur akan kemajuan yang terjadi dalam hari-hari ku saat ini. Aku bangga dengan diriku sendiri. Sungguh! Aku mampu menghasilkan begitu banyak tulisan dimana saja.

Menulis juga membuatku mampu untuk mengekspresikan isi hatiku tanpa takut dikira mengumbar bujuk rayu, gombal, merengek, mengemis, memelas sekalipun mengancam.

Bahagialah kalian yang mampu menulis. Seperti kalian yang mati muda.

Perlahan dengan sangat pelan hingga terang akan menjelang. Cahaya kota kelam menyambut sang petang. Disini aku mampu berbincang dengan apapun yang lirih.

Cahaya lampu jalan itu membuatku bertanya-tanya akan banyak hal. Membangunkan aku dari mimpi. Sudah waktunya aku berdiri, mencari jawaban atas semua gundah dan gelisah hati.

Waktu dengan cepat berlalu. Seperti hantu yang tidak terlihat namun nyata. Tentu kau mengerti kenapa ini semua berlalu begitu cepat. Semua sudah banyak berubah. Membuat semua nilai-nilai cinta dan manusia bobrok sebobrok-bobroknya. Aku tidak mempermasalahkan aspek moral namun yang paling riskan adalah manusia itu sendiri yang sungguh lucu dan menurunkan derajatnya serendah-rendahnya.

Lihat kawanku, kau ingin berdiskusi tentang apa? Bahasamu yang dangkal, terlebih ada beberapa orang yang pernah kutemui dengan lagak pintarnya berkata “i’m falling in love to smart conversation”. Sejujurnya ini membuatku malu. Aku yang malu bukan mereka. Karena aku takut ketika aku mulai membuka topik obrolan mengenai hal yang mereka sebut “smart conversation” mereka akan bingung sendiri untuk melanjutkannya.

Saat ini rupa dan harta menjadi penentu derajat manusia. Ini memalukan. Sungguh Tuhanku, kenapa kau turunkan aku ke dunia yang seperti ini?

Tuhan, tulisan ini sebenarnya berisi pemikiran, harapan, dan doa dari makhluk yang terbuat dari tanah dan kecil. Maafkan hamba untuk pemikiran yang begitu banyak pertanyaan di dalamnya.

Tentu, menerima begitu saja bukan suatu hal yang ada dalam kamus kosa kata milikku. Aku sering sekali menggerutu tuhan. Sering pula tidak bersyukur. Ampunilah diriku tuhan. Terkadang, aku ingin menghentikan diriku untuk berpikir dan hanya menerima. Sulit sekali melakukan itu.

Lampu kerucut taman di seberang jalan membuatku terpaku untuk menatapnya. Warna yang ambigu karena kuning tidak putihpun apalagi. Semua itu seolah merupakan suatu kombinasi terjemahan dari tiap wajah manusia.

Semua terasa mesra tapi kosong.

Semua terlihat indah namun palsu.

Semua tercium wangi namun busuk.

Semua kepalsuan ini membuatku muak.

Semoga sayangku, kau tidak terjebak dalam kepalsuan itu.

Seolah aku merasa diriku yang lepas dan bayangan yang ada menjadi begitu puitis dipinggir jalan.

Perasaan sayang yang amat kuat begitu menguasaiku. Aku ingin memberikan satu rasa cinta yang begitu besar ini kepada tuan putrinya. Dan akhirnya semua akan menjadi seperti biasa, seperti yang tidak pernah kita ramalkan sebelumnya. Teringat semua yang pernah kau pinta seperti untuk tidak menghisap ganja terlalu banyak. Belaian tanganmu dikepalaku yang mampu meredam semua sakit yang ada. Apa kau masih tetap berkata bahwa aku satu-satunya cinta dan tempat kau menyerahkan segala jenis keperawananmu?

Aku harus memberitahumu sesuatu. Kau benar. Kau sepenuhnya benar. Aku mencintaimu sayangku. Selalu begitu. Aku berpikir kau yang tidak adil, namun aku sadari bahwa aku yang tidak adil.

Jadi aku sudah mengatakannya. Aku bukan apa-apa.

Aku merasa bukan apa-apa. Tidak lebih. Dan kau mengubah itu.

Aku tidak tahu apakah ada waktu untuk memperbaiki ini karena yang aku tahu kau sedang memulai sesuatu yang baru bersama orang lain.

Aku ingin sekali menggenggam tangan kecil itu dengan cincin yang melingkar di jari manisnya.

Aku tahu kita begitu berbeda dalam semuanya, kecuali dalam cinta.

 

 

 

 

Kursi Besi dan Kepala Seringan Bulu

Puasa hari pertama meremuk-redamkan ku.

Aku tumbang.

Saat ini aku ada di sebuah apotek untuk membeli obat.

Badanku sungguh tidak kooperatif menghadapi puasa padahal aku sudah cukup sering untuk tidak makan.

Demamku tinggi sekali, dan ruang tunggu ini sangat tidak bersahabat. Kursi besi, meja-meja putih, bilik dengan kaca buram dan penunjuk nama dokter menambah kesan dingin dan kaku.

Aku dibiarkan menunggu begitu lama karena obat yang aku butuhkan sepertinya tidak tersedia di apotek ini.

Kembali aku menerawang, ya kau tahulah apa yang aku pikirkan. Foto di dompetku menatapku dengan hina. Seolah berbicara.

“Kau tersenyum sangat bahagia disini, kawanku.”

“Iya, aku tahu itu. Sudah kau diam saja. Jangan sampai orang-orang tahu bahwa kau mampu ngobrol.

“Tenang, hanya kau yang mampu mendengarku. Boi, tidakkah kau menyesal? Andai kau dan wanitamu dalam foto ini dalam keadaan baik, tentu kau sangat bahagia.”

“Tidak, penyesalanku sudah terjadi berhari-hari lalu. Aku sudah mencoba untuk memperbaiki dan mencoba untuk membuatnya percaya namun ia menolak itu. Paling tidak aku berusaha sekuat itu dengan segenap hatiku.”

“Boi.. boi.. dia wanita, penuh dengan gengsi! Kau tahu itu! Lihat boi senyumnya boi! Tidak berbohong! Bahwa dia benar bahagia.”

Ngga! Sudahlah aku sedang berkonsentrasi untuk melupakan semuanya karena itu yang ia lakukan dan karena itulah ia memilih pria lain. Aku cuma seorang pemimpi yang pemurung. Gagak pembawa sial.”

“Tapi boi..!”

“Sudah! Bukan waktunya aku untuk meratapi yang telah nyata dan terjadi. Aku hanya ingin bahagia seperti yang ia lakukan bersama orang baru itu dalam hidupnya.”

Waktu terus berjalan dan asisten apoteker itu belum jua nampak. Lama sekali ya Tuhan.. Kepalaku seringan bulu! Rasa ingin pingsan.

Semoga kegilaan ini segera berakhir dan semoga berbuka puasa hari esok ditemani senyumnya.

Hari Penghakiman

Bukannya aku membencimu.

Aku hanya membenci keadaan ini.

Kau bisa duduk, berkerumun, tertawa, bahagia, tidur, dan makan dengan lezatnya.

Menyingkirkan, menyampar, menendang, menafikkan, mendengus, dan menilai.

Mudah saja, mudah.

Dengan segala hal milikmu dan pemikiranmu, bagai hakim, kau menjatuhkan nilai padaku.

Dimana aku tidak mau, bukan tidak mampu, melakukan itu.

Karena cinta yang agung menurutku. Benar-benar agung. Tidak semudah itu kau otak-atik.

Apakah semurah itu arti cintamu?

Bukan urusanku.

Suatu masa akan ada yang menyadarkanmu, seperti gada baja menghantam kepala berserta isinya hingga terserak berhamburan.

Sampai kau tengok bahwa isinya adalah mozaik-mozaik yang selama ini tertutupi oleh benteng yang kau bangun sendiri untuk menyingkirkanku dengan berpikir bahwa sakitmu dan segala kesulitanmu adalah alasan untuk tidak mengerti dan untuk tidak mengingat bahkan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya nyata di hadapanmu.

Segitu hinanya kau nilai diriku.

Betapa dirimu inginkan aku untuk tidak lagi ada dalam hidupmu.

Kau senang.

Kau salah menilaiku. Tidakkah kau pikir kau benar-benar telah salah?

Aku harap kepergianku menjadi harta pelajaran bahwa pernah ada dalam masa seorang pria yang jahatnya bukan main, namun dia tidak pernah sedikitpun berbohong, menipu, dan berkata kosong.

Pria yang mampu selalu menepati omongannya yang tidak kau percayai. Pria yang tidak pernah sedikitpun pergi ketika kau membutuhkannya. Pria yang dengan kasarnya mencintaimu penuh dengan kekurangan namun tetap selalu berusaha tanpa perlu kau lihat dan ketahui. Pria yang rela menukar jiwanya untuk dirimu karena menurutnya ibu dan dirimu adalah bentuk kasih sayang yang tulus. Pria yang tidak dengan mudah bilang “aku cinta padamu” tapi dengan jelas menunjukan itu. Pria yang tidak pernah berhenti berusaha. Dan selebihnya.. silahkan kau nilai diriku dengan benteng di hatimu yang kau cipta untuk memikirkan segala keburukkan ku.

Hutang ini akan ku bayar.

Demi amarah dan dendam yang tak satu setanpun berani untuk berkata kosong.

Aku sungguh ingat semua yang kau berikan dan tatapan penilaianmu.

Bukan motivasi, tapi demi dendam ini aku akan bangkit dan berdiri.

Lupakan aku, nilai aku, dan aku akan buktikan semua ini.

Demi Tuhan, Demi Ibu, Demi Setan, Demi Bumi, Demi Langit dan Demi Dendam ini.

Kau telah benar-benar salah.

Disini

Tidakkah rasa bimbang itu sungguh menyiksamu?

Sudikah kau menepi?

Bilamana kau singgah untuk sekedar bergurau seperti biasa?

Tentu, banyak pula pulau yang tersisa.

Tampak indah dengan pasir tertempa surya.

Sedangkan labuhmu disini penuh riak dan karang.

Memalang perahumu disana.

Tak tergapai.

Diam, kelu, dan dingin.

Kau tak datang pun tidak pergi.

Kau tak kasat pun tak semu.

Tak mestinya sedikit luka menghentikan langkah.

Tidakkah cinta berkuasa?

Jika sekarang saat untuk menghadapinya.

Tidakkah ragu menyiksamu?

Sejenak saja hampiriku..

Nai #2

1209.JPG

Malam ini seperti biasa. Dingin. Bandung sedang dingin-dinginnya belakangan ini. Hujan terus mengguyur kota ini seolah tanpa ada harapan, kota ini tampak bersedih selalu. Hari itu aku telah salah, aku tidak bisa membereskan sampah yang sudah aku buat. Aku tau semua ini perlu kekuatan yang besar untuk melewatinya. Aku terlalu menuntut. Mimpi dan kenangan itu musnah sekejap saja karenanya. Tidak lagi terikat atau terhubung. Inilah jalannya. Saat ini aku ingin menjelaskan siapa nai itu. Nai adalah suatu nama yang tertulis di jari manisku dengan tinta. Ya, sebesar itu aku mempercayainya. Itu tidak akan menjadi penyesalan bagiku. Dia adalah wanita yang tangguh, keras kepala, lucu, baik hati, sabar, dan alter ego ku. Dia adalah rupaku dalam bentuk wanita di beberapa karakter. Dia adalah orang ketika aku sedang bercermin. Dia adalah doa yang aku pinta setiap waktu. Aku pernah bahagia bersamanya. Cukup sulit menuliskan ini karena aku bukan orang yang mampu menuliskannya dalam kata-kata karena dia menurutku, lebih dari sekedar kata-kata yang aku tulis selama ini. Banyak mimpi yang dibuat dan telah berhasil diwujudkan. Tiap badai datang, dia tetap disampingku sampai pada suatu saat ia melepaskan pegangannya. Mimpiku untuk bersama sampai tua -dengan entah ikatan apa yang aku sama sekali tidak perduli- pun sirna. Tentu, semua akan tumbuh, Yang hilang akan berganti, Yang hancur akan terobati, Yang sia-sia akan menjadi bermakna, semua akan ada jalannya seperti apa yang sudah pernah aku tulis. Saat ini akulah sepi itu, rebah dan berselimut sendu. Aku berharap kita bertemu lagi dalam perulangan yang memang akan selalu begitu. Semoga cantikmu akan menjadi, lelahmu akan terberkati, cerdasmu akanterbukti dan cintamu akan terbalaskan oleh cinta yang selama ini diingini. Aku mencintai mu.

Chairil Anwar pernah menulis;

Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah”

Sebelum pada akhirnya kita menyerah..